header
panduan perizinan kota kediri

hari jadi kota kediri big sale 2010

cukai
 
review

Mari Selamatkan Remaja


Oleh

Samsu Eriyanto

 

                  Remaja merupakan penerus estafeta bangsa. Di pundaknyalah nantinya kita berharap akan masa depan Kota Kediri ini. Kalau kualitas remaja kita ini baik, niscaya masa depan Kota ini akan cerah. Namun sebaliknya bila kualitas remaja kita ini mbepok, ya jangan berharap terlalu muluk akan bagaimana wajah Kota ini ke depan.

                  Terkait dengan masalah kualitas remaja kita, dilihat dari sudut pandang kesehatan reproduksi mereka, saat ini sungguh cukup memprihatinkan. Berbagai perilaku menyimpang telah dilakukan oleh remaja kita, mulai seksualitas sampai narkoba. Bahkan akhir-akhir ini telah banyak beredar dan terdistribusi dengan luas diantara HP para remaja adegan pornografi yang aktor dan aktrisnya juga para remaja yang masih bau kencur. Yang lebih menghebohkan lagi, seperti yang diwartakan oleh sebuah statiun televisi beberapa waktu lalu. Ditengarahi lebih dari 1.300.000 (satu juta tiga ratus ribu) kasus aborsi di Indonesia setiap tahun. Lebih dari sepertiga diantara itu dilakukan oleh para remaja.

            Untuk Kota Kediri memang belum ada sebuah studi terkini dan tidak ada data mutakhir yang akurat yang menunjukan berapa jumlah remaja yang  telah pernah melakukan hubungan seks? Berapa jumlah remaja yang pernah melihat adegan atau film yang berbau pornografi? Berapa jumlah remaja yang pernah mengalami kehamilan tidak diinginkan sebelum nikah, berapa jumlah remaja yang pernah menggugurkan kandungannya atau aborsi, Berapa jumlah remaja yang pernah menderita Penyakit Menular Seksual? Berapa jumlah remaja yang terjangkit penyakit mematikan HIV/AIDS? Berapa jumlah remaja yang  menjadi korban keganasan pil kirik ataupun pil setan yang namanya narkoba?

               Sudah barang tentu kita semua berharap bahwa semoga kasus-kasus  tentang itu  semua tidak ada di Kota Kediri ini. Tetapi, hal itu justru mustahil, bila di Kota Kediri yang menuju pada suatu tatanan masyarakat metropolis ini tidak ada fenomena itu. Oleh karena itu, kalaupun ada, kita berharap kuantitasnya tidak sampai membuat kita semua mengelus dada.  Dan secara kualitas tidak sampai membuat kita mnggeleng-gelengkan kepala. Itulah harapan kita semua. Toh kenyataannya jumlah kasus yang ada disekitar kita makin hari makin meningkat pula. Bahkan kalau ada datapun, saya yakin seribu persen datanya pasti tidak akurat dan tidak valid. Karena data yang menyangkut kasus tersebut, biasanya seperti fenomena gunung es. Yang nampak dipermukaan hanyalah gundukan kecil yang tidak seberapa, tetapi yang ada dibawah permukaan besarnya na’udzubillah.

 

Causalita.

             Sesuatu terjadi tentu tidak terjadi begitu saja. Sehingga setiap kejadian pasti ada sebab musababnya. Hukum causalitas pasti berlaku, bahwa ada akibat mesti ada sebabnya pula.  Ada sebab tentu akan membawa akibat. Demikian pula dengan fenomena yang terjadi pada remaja kita itu. Perilaku menyimpang remaja seperti seks bebas, narkoba, aborsi dan sebagainya tentu ada sebabnya. Mengapa para remaja melakukan hal itu? Salah satunya karena remaja tidak mempunyai pengetahuan yang cukup tentang kesehatan reproduksi remaja. Dengan pengetahuan yang minim, bagaimana mungkin mereka dituntut untuk memiliki sikap yang kondusif bagi dirinya. Dengan sikap yang tidak kondusif bagaimana mungkin mereka akan berperilaku yang positif.              Di situlah remaja mengalami apa yang dinamakan KAP-Gap. Kesenjangan antara Knowledge ( pengetahuan), Attitude ( sikap) dan  Practice/ Behaviour ( perilaku ).

             Setiap remaja sudah barang tentu menginginkan prestasi sekolahnya baik, dan masa depannya cerah. Saya pikir tidak ada remaja yang memimpikan mengalami drop out sekolah, karena mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, terjerat narkoba ataupun terjangkit HIV/AIDS dan sebagainya. Oleh karena itulah, pada remaja perlu diberikan bekal pengetahuan yang cukup tentang kesehatan reproduksi, khususnya tentang pengenalan organ reproduksi, bagaimana menstruasi terjadi, bagaimana kehamilan terjadi, apa itu penyakit menular seksual, kapan masa subur terjadi, bahaya narkoba dan sebagainya.  Agar mereka bisa menghindar dari perilaku menyimpang. Kalaupun mereka sudah terlanjur terjerumus pada aktivitas seksual yang bebas atau terjerat narkoba. Paling tidak mereka tahu cara bertobat. Kalau belum bisa bertobat paling tidak mereka tahu bagaimana caranya agar tidak hamil sebelum nikah, atau cara untuk tidak terkena penyakit menular seksual.

             Remaja sendiri harus mengetahui dan menyadari bahwa masa remaja merupakan masa transisi antara masa anak-anak menuju masa dewasa. Pada masa transisi ini remaja banyak mengalami perubahan baik bersifat fisik maupun psikis, baik pada laki-laki maupun perempuan. Perubahan-perubahan ini harus dipahami dan diantisipasi supaya mereka menyadari bahwa gejolak yang terjadi pada dirinya merupakan sesuatu yang natural, yang terjadi pada semua manusia yang normal. 

           Orangtua juga harus memahami tentang tumbuh kembang remajanya. Agar mereka mampu mengarahkan anak remajanya menuju arah yang benar. Orang tua harus mampu menjadi rujukan utama bagi para remajannya. Agar remaja tidak merujuk pada tempat yang salah. Apalagi kalau sampai terjadi anak remajanya mencoba dulu (perilaku menyimpang) baru kemudian mencari referensinya.

          Menyikapi fenomena –fenomena remaja ini, marilah kita selamatkan remaja Kota Kediri dengan membekali remaja dan orang tua remaja, pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja. Tugas kita semua adalah mempersempit kesenjangan yang dialami remaja tentang pengetahuan, sikap dan perilaku mereka tentang reproduksi. Berbagai program telah digalakan di Kota Kediri untuk mengelinir berbagai perilaku menyimpang yang dilakukan oleh para remaja. Diantaranya dengan pelatihan advokasi dan konseling kesehatan reproduksi remaja pada siswa sekolah, siswa pondok pesantren, remaja umumnya, kader dan orangtua. Bahkan untuk meningkatkan akses informasi perlu dibentuk pula pusat –pusat informasi kesehatan reproduksi di ekolah dan kelurahan. Namun dengan segala keterbatasan, kegiatan tersebut selama ini belum bisa menjangkau sasaran yang luas.
Samsu E 04/05/2009

ARSIP ARTIKEL LAINYA
10/05/2010 | Menuju Lansia Sehat
10/05/2010 | Telur Dan Cara Pengawetan
01/03/2010 | Mengenali Kanker Serviks, Si Pembunuh Wanita
04/05/2009 | Kepemimpinan Perempuan dan Pengembangan Diri
 
 
 
© Pemerintah Kota Kediri (b@d)