Remaja merupakan penerus estafeta bangsa. Di pundaknyalah
nantinya kita berharap akan masa depan Kota Kediri ini. Kalau kualitas remaja
kita ini baik, niscaya masa depan Kota ini akan
cerah. Namun sebaliknya bila kualitas remaja kita ini mbepok, ya jangan berharap terlalu muluk akan bagaimana wajah Kota ini ke depan.
Terkait dengan masalah kualitas remaja kita, dilihat dari sudut pandang
kesehatan reproduksi mereka, saat ini sungguh cukup memprihatinkan. Berbagai
perilaku menyimpang telah dilakukan oleh remaja kita, mulai seksualitas sampai
narkoba. Bahkan akhir-akhir ini telah banyak beredar dan terdistribusi dengan
luas diantara HP para remaja adegan pornografi yang aktor dan aktrisnya juga
para remaja yang masih bau kencur. Yang lebih menghebohkan lagi, seperti yang
diwartakan oleh sebuah statiun televisi beberapa waktu lalu. Ditengarahi lebih
dari 1.300.000 (satu juta tiga ratus ribu) kasus aborsi di Indonesia setiap tahun. Lebih dari sepertiga
diantara itu dilakukan oleh para remaja.
Untuk Kota Kediri memang belum ada sebuah studi terkini dan tidak ada
data mutakhir yang akurat yang menunjukan berapa jumlah remaja yangtelah pernah melakukan hubungan seks? Berapa
jumlah remaja yang pernah melihat adegan atau film yang berbau pornografi?
Berapa jumlah remaja yang pernah mengalami kehamilan tidak diinginkan sebelum
nikah, berapa jumlah remaja yang pernah menggugurkan kandungannya atau aborsi,
Berapa jumlah remaja yang pernah menderita Penyakit Menular Seksual? Berapa
jumlah remaja yang terjangkit penyakit mematikan HIV/AIDS? Berapa jumlah remaja
yangmenjadi korban keganasan pil kirik
ataupun pil setan yang namanya narkoba?
Sudah barang tentu kita semua berharap bahwa semoga kasus-kasustentang itusemua tidak ada di Kota Kediri ini. Tetapi, hal itu justru mustahil,
bila di Kota Kediri yang menuju pada suatu tatanan masyarakat metropolis ini
tidak ada fenomena itu. Oleh karena itu, kalaupun ada, kita berharap
kuantitasnya tidak sampai membuat kita semua mengelus dada.Dan secara kualitas tidak sampai membuat kita
mnggeleng-gelengkan kepala. Itulah harapan kita semua. Toh kenyataannya jumlah
kasus yang ada disekitar kita makin hari makin meningkat pula. Bahkan kalau ada
datapun, saya yakin seribu persen datanya pasti tidak akurat dan tidak valid.
Karena data yang menyangkut kasus tersebut, biasanya seperti fenomena gunung
es. Yang nampak dipermukaan hanyalah gundukan kecil yang tidak seberapa, tetapi
yang ada dibawah permukaan besarnya na’udzubillah.
Causalita.
Sesuatu terjadi tentu tidak terjadi begitu saja. Sehingga setiap
kejadian pasti ada sebab musababnya. Hukum causalitas pasti berlaku, bahwa ada
akibat mesti ada sebabnya pula.Ada sebab tentu akan membawa akibat.
Demikian pula dengan fenomena yang terjadi pada remaja kita itu. Perilaku
menyimpang remaja seperti seks bebas, narkoba, aborsi dan sebagainya tentu ada
sebabnya. Mengapa para remaja melakukan hal itu? Salah satunya karena remaja
tidak mempunyai pengetahuan yang cukup tentang kesehatan reproduksi remaja.
Dengan pengetahuan yang minim, bagaimana mungkin mereka dituntut untuk memiliki
sikap yang kondusif bagi dirinya. Dengan sikap yang tidak kondusif bagaimana
mungkin mereka akan berperilaku yang positif.Di situlah remaja mengalami apa
yang dinamakan KAP-Gap. Kesenjangan antara Knowledge ( pengetahuan), Attitude (
sikap) danPractice/ Behaviour (
perilaku ).
Setiap remaja sudah barang tentu menginginkan prestasi sekolahnya baik,
dan masa depannya cerah. Saya pikir tidak ada remaja yang memimpikan mengalami
drop out sekolah, karena mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, terjerat
narkoba ataupun terjangkit HIV/AIDS dan sebagainya. Oleh karena itulah, pada
remaja perlu diberikan bekal pengetahuan yang cukup tentang kesehatan
reproduksi, khususnya tentang pengenalan organ reproduksi, bagaimana menstruasi
terjadi, bagaimana kehamilan terjadi, apa itu penyakit menular seksual, kapan
masa subur terjadi, bahaya narkoba dan sebagainya.Agar mereka bisa menghindar dari perilaku
menyimpang. Kalaupun mereka sudah terlanjur terjerumus pada aktivitas seksual
yang bebas atau terjerat narkoba. Paling tidak mereka tahu cara bertobat. Kalau
belum bisa bertobat paling tidak mereka tahu bagaimana caranya agar tidak hamil
sebelum nikah, atau cara untuk tidak terkena penyakit menular seksual.
Remaja sendiri harus mengetahui dan menyadari bahwa masa remaja
merupakan masa transisi antara masa anak-anak menuju masa dewasa. Pada masa
transisi ini remaja banyak mengalami perubahan baik bersifat fisik maupun
psikis, baik pada laki-laki maupun perempuan. Perubahan-perubahan ini harus
dipahami dan diantisipasi supaya mereka menyadari bahwa gejolak yang terjadi pada
dirinya merupakan sesuatu yang natural, yang terjadi pada semua manusia yang
normal.
Orangtua juga harus memahami tentang tumbuh kembang remajanya. Agar
mereka mampu mengarahkan anak remajanya menuju arah yang benar. Orang tua harus
mampu menjadi rujukan utama bagi para remajannya. Agar remaja tidak merujuk
pada tempat yang salah. Apalagi kalau sampai terjadi anak remajanya mencoba
dulu (perilaku menyimpang) baru kemudian mencari referensinya.
Menyikapi fenomena –fenomena remaja ini, marilah kita selamatkan remaja
Kota Kediri dengan membekali remaja dan orang tua remaja, pengetahuan tentang
kesehatan reproduksi remaja. Tugas kita semua adalah mempersempit kesenjangan
yang dialami remaja tentang pengetahuan, sikap dan perilaku mereka tentang
reproduksi. Berbagai program telah digalakan di Kota Kediri untuk mengelinir
berbagai perilaku menyimpang yang dilakukan oleh para remaja. Diantaranya
dengan pelatihan advokasi dan konseling kesehatan reproduksi remaja pada siswa
sekolah, siswa pondok pesantren, remaja umumnya, kader dan orangtua. Bahkan
untuk meningkatkan akses informasi perlu dibentuk pula pusat –pusat informasi kesehatan
reproduksi di ekolah dan kelurahan. Namun dengan segala keterbatasan, kegiatan
tersebut selama ini belum bisa menjangkau sasaran yang luas.