"Stop Bullying" ARPEGA Band Wakili Jatim di Stop Bullying Music Festival
"Stop jangan
pernah ada rasa takut...Jangan pernah ada wajah yang cemberut...Saat kau
berpijak di sini, di sekolah ini..raihlah sebuah prestasi...Tanpa hal yang
menghantui..Stop..stop..stop..stop..stop..bullying.."
Mengawali tahun 2009 satu prestasi membanggakan berhasil
diukirkan oleh oleh siswa-siswa SMPN 3 Kediri. Bukan di bidang pendidikan
memang, tapi prestasi itu cukup membuat keberadaan SMP di jalan Joyoboyo Kota
Kediri ini patut diperhitungkan. Yap, SMP yang dikomandani Saptami Nurhayati berhasil meraih juara III festival
musik Stop Bullying Music Festival and Arts Project
yang diselenggarakan oleh Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya-Unesa
bekerjasama dengan Plan Indonesia dan Yayasan Sejiwa Jakarta.
Hal lain yang tak kalah membanggakan, lagu Stop Bullying yang dinyanyikan ARPEGA
Band-band SMP 3 Kediri, adalah lagu ciptaan mereka sendiri.“Ini merupakanhasil membanggakan yang kami raih secara
kolektif,” Ujar Dra Saptami Nurhayati MM., Kepala SMPN 3.”Sentuhan etnis Jawa Timur ikut mewarnai lagu
Stop Bullying, “Kami jga suda mengubah sebagian teksnya menggunakan bahasa
inggris. Ini untukantisipasi kalau kami
jadi juara I dan dikirim ke Thailand untuk mewakili Indonesia,” ujarnya lebih lanjut. Hal senada
juga disampaikan oleh Yayuk Siti Rahayu yang menjadi pembimbing Arpega Band
selama persiapan dan pembuatan lagu,”Hilang sudah rasa capek yang selama ini
menghinggapi anak-anak dan Pembina, mulai persiapan awal hingga grand final,
setelah dapat mempersembahkan hasilmaksimal.”
Perjalanan menuju Grand Final yang diadakan di Gedung
Usmar Ismail tidaklah mudah, karena festival yang bertajuk “ Stop Bullying,
Music and Art” tersebut menggunakan system penyaringan mulai dari tingkat
Provinsi. Di tingkat provinsi Jawa Timur ARPEGA BAND, menyisihkan sepuluh
kontestan yang berasal dari Jatim. Dari
sepuluh peserta tadi akhirnya panitia dari provinsi menjaring tiga grup yang
lolos ke Jakarta. ARPEGA BAND yang beranggotakan tujuh personel yatu Ellsa
Safira pada Vokal, Shinta DeviPada
Background Vokal, Dede Agung pada Guitar, Fahruzy Kusuma pada Bassist, Muda
Bagus pada Drummer, Yosua Eka Timesa dan Diaz Qa Alfa pada Etnis tersebut dapat
meraih peringkat pertama, disusul oleh SMUN 1 Bojonegoro sebagai Runner Up dan
SMUN 4 Surabaya meraih peringkat III.
Di grand final, anak-anak Arpega band bermain lepas,
padahal mereka berhadapan dengan dewan juri yang mempunyai reputasi nasional
sekaligus musisi kawakan semisal James F Sundah, Tere, Iswantono dan Cikita
Meydi. Belum lagi lawan yang mereka hadapi semuanya dari
band-band anak SMU. Kontestan lain yang mereka hadapi berasal dari tiga
wilayahselain Jatim ada Jokjakarta dan
Jakarta yang notabene merupakan gudangnya para musisi handal. Terlebih mereka datang dengan perlengkapan nan
canggih.
Rasa minder sempat menghampiri personil Arpega
Band. Penyebabnya, apalagi kalau bukan karena melihat
alat-alat musik yang dibawa para band finalis lainnya. Sedang, alat musik yang
mereka bawa tak sebagus alat musik lawan-lawannya itu. Karena rasa minder
tersebut Dede dkk bahkan tak bisa tidur malam hari sebelum tampil. "Sehari
sebelum tampil ada workshop dulu. Nah, malamnya kami nggak bisa tidur
sampai jam dua karena ngebayangin gimana tampil besok," kenang Elsa
sambil tersenyum. Dan lagi-lagi lawan mereka hadapi adalah band-band SMU.
Namun, ternyata
penampilan grup lainnya tak sehebat alat musik yang mereka bawa. Arpega band
pun bangkit semangatnya. Dengan aransemen yang baru, mereka akhirnya mampu
tampil apik. Hasilnya, meski tak bisa menjadi juara pertama, tapi gelar juara
tiga berhasil mereka raih.
Selama tiga hari di Jakarta ada
beberapa tahapan yang harus dilalui oleh para kontestan, selain kekompakan tim,
para kontestan juga diuji secara individu dan digabungkan dengan musisi lain
secara acak. Hal-hal yang dinilai oleh para dewan juri antara lain kejernihan
suara dan tingkat penguasaan alat pada saat memainkan musik, setelah melalui
serangkaian penilaian yang sangat ketat akhirnya dewan juri memutuskan Juara I
direbut SMUN 28 Jakarta, Juara II SMUN 3 Jogjakarta, dan Juara III SMPN 3
Kediri.
Arpega Band sendiri sebenarnya baru
berdiri pertengahan Agustus 2008 lalu, tepat dua bulan sebelum adanyababak penyisihan festival. Itupun terjadi
secara kebetulan.
Yayuk menuturkan , awal
berdirinya Arpega Band ini secara tidak sengaja, yaitu ketika ada mahasiswa
Universitas Negeri Surabaya ( UNESA) sedang melaksanakan PPL di SMPN 3, saat
itu para mahasiswa Unesa melihat potensi musik anak-anak tempatnya PPL termasuk
menonjol. Setelah
berkoordinasi dengan guru kesenian dan mendapat dukungan yang luar biasa dari
Kepala sekolah, maka mulailah anak-anak tekun berlatih, dan berawal dari
ketidaksengajaan saat beberapa mahasiswa mencari data di internet, disitu ada
brosur akan diadakannyaFestifal Musik. “Dengan
dasar itulah maka kami Pembina melatihanak-anak
secara intensive dan Alhamdulillah hasilnya sangat memuaskan”. Sebagai ungkapan
rasa syukur dan merayakan kemenangan pada Sabtu 31 Januari 2009 secara sedehana
diadakan syukuran yang diikuti oleh seluruh guru, para musisi yang telah
membawa harum nama Kota Kediri dan Almamater, juga seluruh siswa SMPN 3.
Kekerasan itu bernama bullying.
Sebenarnya apa yang membuat Arpega Band mampu
membuat lagu bertema kekerasan di sekolah yang mengantar mereka mendapat juara?
Ternyata
tak aneh-aneh. Semua berdasarkan pengalaman dan apa yang mereka lihat
sehari-hari.
Ternyata kekerasan di
sekolah masih saja ada. Karena itu, melalui karya lagu itu, mereka ingin mengampanyekan
penghentian kekerasan di sekolah. "Mungkin ini tidak seberapa, tapi kami
berharap musik kami bisa menyadarkan teman-teman yang terlibat kekerasan,"
lanjut Dede.
Bullying, barangkali
peribahasa di atas tepat untuk menggambarkan terkuaknya ketersesatan remaja
yang berbangga diri dengan tindak kekerasannya. Sebut saja: Geng Motor di
Bandung, Geng Nero di Pati, Senior di STPDN (sekarang IPDN), dan masih banyak
lagi. Mereka bilang itu jantan, setia kawan, atau apalah …, intinya sebuah rasionalisasi.Padahal bila mereka tahu, sesungguhnya
perilaku seperti itu menyimpang.
Bullying
merupakan penggunaan agresi dengan tujuan untuk menyakiti orang lain baik
secara fisik maupun mental, sebuah tindakan yang SANGAT TIDAK MANUSIAWI. Bentuk
Bullying meliputi tindakan fisik, verbal, emosional dan
juga seksual. Pelaku Bullying
adalah mereka yang kuat, berkuasa, superior – dan korbannya adalah mereka yang
lemah, tidak berkuasa, dan inferior. bullying
ini sangat berbahaya karena hanya akan menimbulkan lingkaran negatif yang terus
berputar layaknya sebuah rantai makanan. Dampak negatif tersebut di antaranya
ganguan mental, bolos sekolah, tidak percaya diri, sakit, luka, perkembangan
terhambat, dan juga yang parah lagi adalah menjadi pelaku bullying di kemudian hari. Itulah
mengapa yang namanya kekerasan dalam Ospek, MOS, atau recruitment-recruitment
organisasi tertentu terus terjadi. Tahta bullying
diturunkan dari generasi ke generasi, baik disadari atau tidak, baik secara
sengaja atau tidak.
Bullying
merupakan PR tersendiri bagi remaja, khususnya di Indonesia. Apapun alasannya bullying tetap berdampak negatif. Oleh
karena itu, mari bersama-sama kita berusaha menjadi remaja yang manusiawi! STOP
BULLYING SEKARANG JUGA!!!!!!!