header
panduan perizinan kota kediri

hari jadi kota kediri big sale 2010

cukai
 
review

"Stop Bullying" ARPEGA Band Wakili Jatim di Stop Bullying Music Festival


"Stop jangan pernah ada rasa takut...Jangan pernah ada wajah yang cemberut...Saat kau berpijak di sini, di sekolah ini..raihlah sebuah prestasi...Tanpa hal yang menghantui..Stop..stop..stop..stop..stop..bullying.."

Mengawali tahun 2009 satu prestasi membanggakan berhasil diukirkan oleh oleh siswa-siswa SMPN 3 Kediri. Bukan di bidang pendidikan memang, tapi prestasi itu cukup membuat keberadaan SMP di jalan Joyoboyo Kota Kediri ini patut diperhitungkan. Yap, SMP yang dikomandani Saptami Nurhayati berhasil meraih juara III festival musik Stop Bullying Music Festival and Arts Project yang diselenggarakan oleh Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya-Unesa bekerjasama dengan Plan Indonesia dan Yayasan Sejiwa Jakarta.

Hal lain yang tak kalah membanggakan, lagu Stop Bullying yang dinyanyikan ARPEGA Band-band SMP 3 Kediri, adalah lagu ciptaan mereka sendiri.  “Ini merupakan  hasil membanggakan yang kami raih secara kolektif,” Ujar Dra Saptami Nurhayati MM., Kepala SMPN 3.”   Sentuhan etnis Jawa Timur ikut mewarnai lagu Stop Bullying, “Kami jga suda mengubah sebagian teksnya menggunakan bahasa inggris. Ini untuk  antisipasi kalau kami jadi juara I dan dikirim ke Thailand untuk mewakili Indonesia,” ujarnya lebih lanjut. Hal senada juga disampaikan oleh Yayuk Siti Rahayu yang menjadi pembimbing Arpega Band selama persiapan dan pembuatan lagu,”Hilang sudah rasa capek yang selama ini menghinggapi anak-anak dan Pembina, mulai persiapan awal hingga grand final, setelah dapat mempersembahkan hasil  maksimal.”

Perjalanan menuju Grand Final yang diadakan di Gedung Usmar Ismail tidaklah mudah, karena festival yang bertajuk “ Stop Bullying, Music and Art” tersebut menggunakan system penyaringan mulai dari tingkat Provinsi. Di tingkat provinsi Jawa Timur ARPEGA BAND, menyisihkan sepuluh kontestan  yang berasal dari Jatim. Dari sepuluh peserta tadi akhirnya panitia dari provinsi menjaring tiga grup yang lolos ke Jakarta. ARPEGA BAND yang beranggotakan tujuh personel yatu Ellsa Safira pada Vokal, Shinta Devi  Pada Background Vokal, Dede Agung pada Guitar, Fahruzy Kusuma pada Bassist, Muda Bagus pada Drummer, Yosua Eka Timesa dan Diaz Qa Alfa pada Etnis tersebut dapat meraih peringkat pertama, disusul oleh SMUN 1 Bojonegoro sebagai Runner Up dan SMUN 4 Surabaya meraih peringkat III.

Di grand final, anak-anak Arpega band bermain lepas, padahal mereka berhadapan dengan dewan juri yang mempunyai reputasi nasional sekaligus musisi kawakan semisal James F Sundah, Tere, Iswantono dan Cikita Meydi. Belum lagi lawan yang mereka hadapi semuanya dari band-band anak SMU. Kontestan lain yang mereka hadapi berasal dari tiga wilayah  selain Jatim ada Jokjakarta dan Jakarta yang notabene merupakan gudangnya para musisi handal.  Terlebih mereka datang dengan perlengkapan nan canggih.

 Rasa minder sempat menghampiri personil Arpega Band. Penyebabnya, apalagi kalau bukan karena melihat alat-alat musik yang dibawa para band finalis lainnya. Sedang, alat musik yang mereka bawa tak sebagus alat musik lawan-lawannya itu. Karena rasa minder tersebut Dede dkk bahkan tak bisa tidur malam hari sebelum tampil. "Sehari sebelum tampil ada workshop dulu. Nah, malamnya kami nggak bisa tidur sampai jam dua karena ngebayangin gimana tampil besok," kenang Elsa sambil tersenyum. Dan lagi-lagi lawan mereka hadapi adalah band-band SMU.

Namun, ternyata penampilan grup lainnya tak sehebat alat musik yang mereka bawa. Arpega band pun bangkit semangatnya. Dengan aransemen yang baru, mereka akhirnya mampu tampil apik. Hasilnya, meski tak bisa menjadi juara pertama, tapi gelar juara tiga berhasil mereka raih.

Selama tiga hari di Jakarta ada beberapa tahapan yang harus dilalui oleh para kontestan, selain kekompakan tim, para kontestan juga diuji secara individu dan digabungkan dengan musisi lain secara acak. Hal-hal yang dinilai oleh para dewan juri antara lain kejernihan suara dan tingkat penguasaan alat pada saat memainkan musik, setelah melalui serangkaian penilaian yang sangat ketat akhirnya dewan juri memutuskan Juara I direbut SMUN 28 Jakarta, Juara II SMUN 3 Jogjakarta, dan Juara III SMPN 3 Kediri.

Arpega Band sendiri sebenarnya baru berdiri pertengahan Agustus 2008 lalu, tepat dua bulan sebelum adanya  babak penyisihan festival. Itupun terjadi secara kebetulan.

Yayuk menuturkan , awal berdirinya Arpega Band ini secara tidak sengaja, yaitu ketika ada mahasiswa Universitas Negeri Surabaya ( UNESA) sedang melaksanakan PPL di SMPN 3, saat itu para mahasiswa Unesa melihat potensi musik anak-anak tempatnya PPL termasuk menonjol. Setelah berkoordinasi dengan guru kesenian dan mendapat dukungan yang luar biasa dari Kepala sekolah, maka mulailah anak-anak tekun berlatih, dan berawal dari ketidaksengajaan saat beberapa mahasiswa mencari data di internet, disitu ada brosur akan diadakannya  Festifal Musik. “Dengan dasar itulah maka kami Pembina melatih  anak-anak secara intensive dan Alhamdulillah hasilnya sangat memuaskan”. Sebagai ungkapan rasa syukur dan merayakan kemenangan pada Sabtu 31 Januari 2009 secara sedehana diadakan syukuran yang diikuti oleh seluruh guru, para musisi yang telah membawa harum nama Kota Kediri dan Almamater, juga seluruh siswa SMPN 3.

 

Kekerasan itu bernama bullying.

Sebenarnya apa yang membuat Arpega Band mampu membuat lagu bertema kekerasan di sekolah yang mengantar mereka mendapat juara? Ternyata tak aneh-aneh. Semua berdasarkan pengalaman dan apa yang mereka lihat sehari-hari.

Ternyata kekerasan di sekolah masih saja ada. Karena itu, melalui karya lagu itu, mereka ingin mengampanyekan penghentian kekerasan di sekolah. "Mungkin ini tidak seberapa, tapi kami berharap musik kami bisa menyadarkan teman-teman yang terlibat kekerasan," lanjut Dede.

Bullying, barangkali peribahasa di atas tepat untuk menggambarkan terkuaknya ketersesatan remaja yang berbangga diri dengan tindak kekerasannya. Sebut saja: Geng Motor di Bandung, Geng Nero di Pati, Senior di STPDN (sekarang IPDN), dan masih banyak lagi. Mereka bilang itu jantan, setia kawan, atau apalah …, intinya sebuah rasionalisasi. Padahal bila mereka tahu, sesungguhnya perilaku seperti itu menyimpang.

Bullying merupakan penggunaan agresi dengan tujuan untuk menyakiti orang lain baik secara fisik maupun mental, sebuah tindakan yang SANGAT TIDAK MANUSIAWI. Bentuk Bullying meliputi tindakan fisik, verbal, emosional dan juga seksual. Pelaku Bullying adalah mereka yang kuat, berkuasa, superior – dan korbannya adalah mereka yang lemah, tidak berkuasa, dan inferior. bullying ini sangat berbahaya karena hanya akan menimbulkan lingkaran negatif yang terus berputar layaknya sebuah rantai makanan. Dampak negatif tersebut di antaranya ganguan mental, bolos sekolah, tidak percaya diri, sakit, luka, perkembangan terhambat, dan juga yang parah lagi adalah menjadi pelaku bullying di kemudian hari. Itulah mengapa yang namanya kekerasan dalam Ospek, MOS, atau recruitment-recruitment organisasi tertentu terus terjadi. Tahta bullying diturunkan dari generasi ke generasi, baik disadari atau tidak, baik secara sengaja atau tidak.

Bullying merupakan PR tersendiri bagi remaja, khususnya di Indonesia. Apapun alasannya bullying tetap berdampak negatif. Oleh karena itu, mari bersama-sama kita berusaha menjadi remaja yang manusiawi! STOP BULLYING SEKARANG JUGA!!!!!!!

Barometer 26/02/2009
ARSIP LINTAS KOTA LAINYA
10/05/2010 | Gelora Jayabaya, Pengejawantahan Semangat Dewa Wisnu Murti
01/03/2010 | Demam Berdarah Merajalela
01/03/2010 | Peresmian Mobil Perpustakaan Keliling
04/05/2009 | GEDUNG DEWAN DAN RAKYAT SUDAH MEMILIH WAKIL MEREKA
 
 
 
© Pemerintah Kota Kediri (b@d)